Orang-orang selalu memanggilku begitu, entah dari mana asal nama itu. Yang kutahu Bik Imah cuma memanggilku Cah Bagus. Iya, Bik Imah satu – satunya orang yang sangat kuhormati melebihi bapakku yang entah siapa. Iya, Bik Imah wanita yang kujunjung tinggi melebihi ibu kandungku yang tega membuangku dalam kardus bekas berserta ari-ariku. Kata orang-orang Bik Imah yang menemukanku, membersihkanku dari darah dan ari-ariku. Bik Imah juga yang mengasuhku, membesarkanku dengan tangan keriputnya. Bik Imah yang selalu membelai kepalaku dan memanggilku Cah Bagus. Bik Imah yang selalu memandikanku dibelakang rumah panggung pinggir kali itu.
Cah Bagus……nama yang sangat indah dikupingku. Tapi itu dulu, dua puluh tahun yang lalu. Dua puluh tahun aku tak pernah mendengar nama itu mampir ke kupingku.
Sekarang namaku Sengkala, begitu semua orang memanggilku.








