Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sebuah Cerita : Namaku Sengkala

Disajikan oleh Erwin Jahja



Namaku Sengkala……

Orang-orang selalu memanggilku begitu, entah dari mana asal nama itu. Yang kutahu Bik Imah cuma memanggilku Cah Bagus. Iya, Bik Imah satu – satunya orang yang sangat kuhormati melebihi bapakku yang entah siapa. Iya, Bik Imah wanita yang kujunjung tinggi melebihi ibu kandungku yang tega membuangku dalam kardus bekas berserta ari-ariku. Kata orang-orang Bik Imah yang menemukanku, membersihkanku dari darah dan ari-ariku. Bik Imah juga yang mengasuhku, membesarkanku dengan tangan keriputnya. Bik Imah yang selalu membelai kepalaku dan memanggilku Cah Bagus. Bik Imah yang selalu memandikanku dibelakang rumah panggung pinggir kali itu.
Cah Bagus……nama yang sangat indah dikupingku. Tapi itu dulu, dua puluh tahun yang lalu. Dua puluh tahun aku tak pernah mendengar nama itu mampir ke kupingku.
Sekarang namaku Sengkala, begitu semua orang memanggilku.

Sebuah Cerita : N O N I

Disajikan oleh Erwin Jahja



Pukul 7 malam aku sudah berada di stasiun Gambir,menunggu keberangkatan kereta api Senja Utama jurusan Jogja. Padahal kereta berangkat masih satu jam lagi. Aku sengaja mengambil cuti tiga hari, untuk melepas penat dan bosanku mengerjakan rutinitas. Untunglah saat ini bukan musim liburan, yah jadi tak begitu ramai.

“Hmm, apa ya kata Warsito nanti kalo aku sampai disana,“pikirku.

Aku memang sengaja tak memberi tahu karibku itu, biar dia sedikit kaget. Sudah satu tahun lebih aku tak ke Jogja. Kulangkahkan kaki ku menuju peron, tempat duduk tunggu itu penuh semua.

Sebuah Cerita : Surat Tuan Presiden

Disajikan oleh Erwin Jahja



Surat-surat ini begitu banyak di meja kerjaku yang sebenarnya tidak ingin kubaca. Awalnya aku sangat antusias membaca surat-surat itu dan kalau bisa ingin kubalas sendiri dengan tulisan tanganku, tapi mungkin itu akan sedikit mengurangi wibawaku. Dari pertama kali hingga hari ini surat-surat ini hanya berisi puja-puji dan sanjungan setinggi langit tentang aku. Tidak sekalipun aku menerima tulisan tentang keluhan, kemarahan, kebencian dan segala macam sumpah serapah tentang diriku, terkadang itu sungguh membosankan.

Bailout Warung Mpok Sentuni Part.I

Disajikan oleh Erwin Jahja



“Coy gimana aktingku tadi, lumayan kan?” Aku yakin kau pun kaget ku maki-maki seperti itu kan Coy. Hahaha, biarlah tak apa itu Coy. Yang penting lampu-lampu blitz dan sorot kamera para wartawan itu kan, hahahaha !” lebar tawa si Pultak.

Kepala Gemblus masih panas dipermalukan si Pultak dalam rapat lintas PERAKSI, semacam majelis pemantau kerja kepala desa, di balai Desa tadi pagi. “Tapi kau kelewatan kali tadi, aku benar-benar jadi emosi. Hampir saja kulempar gelas kau, untung kau kasih kode waktu wartawan-wartawan itu berebutan menyoroti kita. Memang kau ini pandai kali bikin sensasi, lumayan juga lah.”

Sebuah Cerita : I B L I S

Disajikan oleh Erwin Jahja



Gepokan uang dimejaku belum tersusun rapi, setoran yang masuk malam ini lebih banyak dari biasanya. Padahal waktu masih jauh menuju tengah malam, tapi anak-anak asuhanku sudah habis dibooking. Ah, begitu gampang mendapatkan uang dengan menjual jasa begini. Aku rasa pekerjaan ini hal mulia, dengan membuat banyak orang mereguk kenikmatan dan mendapatkan cinta secara instant, yang mungkin saja tak mereka dapatkan di luar sana, di dunia nyata. Yah, aku memang menjual surga dunia ini untuk mereka yang membutuhkannya. Apalagi akhir-akhir ini bertambah banyak orang yang haus akan cinta. Haus akan kenikmatan yang di sini bisa didapatkan dengan cepat. Mungkin saja mereka benar-benar membutuhkan ini, mungkin saja kenikmatan ini tak mereka dapatkan di kantor, di rumah atau malah dari istrinya sendiri. Persetan kata orang menuduh kami mengotori dunia dengan pekerjaan seperti ini. Kenyataannya jasa yang kami jual membuat mereka dapat cinta dan kenikmatan kilat. Hanya orang-orang munafik yang mencerca kami, karena mereka terlalu pengecut untuk mencoba, padahal hati sangat ingin dan penasaran bagaimana rasanya surga dunia disini. Orang-orang yang berkoar-koarr atas nama agama dan hukum pemerintah, padahal mereka sembunyi-sembunyi melakukan itu juga. Sok suci dan pengecut, kemudian cuma berani melecehkan atau memperkosa entah itu anak didiknya, pembantunya, anak tetangga atau bawahan dikantor mereka.

Sebuah Cerita : Kutukan

Disajikan oleh Erwin Jahja



Kulayangkan pandangku pada waduk lumpur didepan mataku.
Syahdan disini pernah ada sebuah desa yang makmur, tenggelam oleh kutukan karena keserakahan mereka. Buku kecil lusuh yang kutemukan dipinggiran waduk ini dapat menjelaskan semua itu.

Desa kami seperti mendapat kutukan dari dewata, setiap saat ada saja bencana yang datang silih berganti. Seperti hari-hari kemarin, dua orang mati lagi pagi itu entah oleh sebab apa, yang jelas sebelumnya mereka hanya sakit flu, demam dan panas tinggi. Kata orang kampung mereka terkena teluh, sebahagian lagi ada yang bilang karena desa kami sedang dilanda wabah penyakit yang aneh. Sudah hampir penuh tanah makam kampung kami, setiap hari ada saja orang yang mati, kami tak tahu apa itu wabah penyakit atau kutukan. Para penggali kubur sudah terbiasa menyiapkan cangkul setiap pagi, dan bertanya-tanya siapa lagi yang mati pagi ini. Bukan hanya itu, ternak-ternak kami juga mati tanpa tahu kejelasan sebabnya. Sawah dan ladang gagal dipanen, padi-padi yang siap dipanen diserang hama tikus, sayur-sayuran diladang membusuk, ikan ditambak sungai mati. Entah apa yang terjadi pada desa kami, tapi itu baru sebagian musibah didesa kami yang aku ceritakan.

Sebuah Cerita : Surat Terakhir

Disajikan oleh Erwin Jahja


“Kawan aku bingung dengan apa yang terjadi saat ini.”
“Aku tak tau apa keputusanku benar atau salah.”
“Mulai saat ini aku sudah tidak di hutan lagi, kuputuskan kembali ke kehidupan normal tanpa harus bersembunyi dan merasa dikejar-kejar.”
“Aku sudah tak tau tujuan apalagi yang kucari di hutan, kalau hanya untuk dendam, kurasa hal itu tak kan pernah habis, seperti lingkaran setan.”
Itu sepenggal surat terakhir yang kuterima dari Mustori. Mustori temanku di bangku SMA dulu di Banda Aceh. Cukup pintar, tampan, polos dan suka menyendiri.
Aku tak begitu terkejut saat mendengar kabar bahwa Mustori memutuskan untuk bergabung dengan gerakan separatis disana. Dulu, Mustori sering bercerita padaku tentang desanya dan keluarganya di Bireun. Saat DOM bapaknya dijemput tentara malam-malam, dituduh makar, tanpa bisa membela diri. Sampai saat terakhir bapaknya pulang diantar Keucik ( Kepala Desa ) desanya. Dan aku masih ingat bagaimana ekspresi Mustori saat bercerita kalau bapaknya pulang dengan cacat, salah satu bola matanya pecah dihantam popor senapan. Tak lama setelah kejadian itu kakak lelakinya yang dijemput paksa dengan tuduhan menjadi informan GAM dan tak pernah tau bagaimana nasibnya. Wajahnya begitu marah dan geram.

Sebuah Cerita : Dongeng dari Andalas

Disajikan oleh Erwin Jahja


“Sepertinya kita harus lebih siaga dan waspada lagi hari-hari kedepan pandeka,” suara berat penuh wibawa Datuk Perpatih seolah tenggelam oleh derik binatang malam.

Ditengah balairung itu duduk bersila Datuk Perpatih, didepannya dua orang hulubalangnya menyimak dengan seksama semua penuturan sang datuk. Pandeka Kuniang Batuah dan Sutan Marajo adalah dua orang kepercayaannya. Datuk Perpatih Nan Sabatang, itulah gelar yang disematkan padanya, ia adalah pemimpin bijaksana dari ranah Andalas ini. Namun sekarang ia menjadi was-was semenjak negrinya didatangi orang-orang dari tanah jawa. Datuk Perpatih harus memutar otak untuk menghadapi ancaman dari orang-orang Majapahit. Apabila melawan dengan kekuatan perang pastilah mereka akan kalah telak. Bagaimana mungkin melawan pasukan Sang Mahapatih Gajah Mada yang masyhur itu. Negrinya hanyalah negri kecil ditanah Andalas ini. Sedangkan Majapahit siapa yang tidak mengenal Sri Maharajasa dan Mahapatih Gajah Madanya, sampai ketanah Malaka dan Siam mereka ditakuti, kekuasaan mereka meliputi hampir seluruh pulau sumatra, dharmasraya telah mereka kuasai, sampai ke seram dan maluku, bahkan mereka dapat dengan mudahnya menaklukan Papua. Mungkin hanya orang Mongollah yang dapat menandingi kekuatan tentara Majapahit, itu pun jikalau Khubilai Khan masih ada.

Sebuah Cerita : Lelaki Dengan Senyuman Dan Tawa Gigi Kuning

Disajikan oleh Erwin Jahja

Sebelum adzan subuh berkuumandang menghiasi fajar pagi, perempuan itu setia berjalan tiga kilometer menggendong bakul jamu. Selalu rutinitas itu dilakukan nya setiap hari, selalu dengan peluh dikeningnya, hampir empat tahun ini. Di pagi buta dingin, telah bercucuran keringat dengan botol-botol jamu yang diraciknya malam tadi. Berharap hari ini jamu racikannya akan diminum orang-orang, membuat sipeminum menjadi segar olehnya. Entah itu karena jamunya memang manjur atau karena sugesti orang – orang.

Tidak seperti pedagang jamu gendong lainnya, yang selalu berkeliling menjajakan dagangannya. Perempuan itu menjajakan dagangannya tetap di depan emperan ruko kelontong milik seorang pedagang Tionghua.