Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Ibrahim Yacoob, Orang Malaysia yang Jadi Pahlawan Indonesia

Disajikan oleh Erwin Jahja



Tidak salah kiranya beberapa waktu lalu tulisan saya tentang integrasi Malaysia ke Indonesia menjadi solusi terbaik bagi hubungan kedua negara. Integrasi Malaysia menjadi bagian dari Republik ini tentu menjadi penting, agar tak perlu lagi saling ngotot tentang batas-batas teritorial, klaim seni-budaya, klaim kuliner yang di lakukan Malaysia. Kejadian seperti inisden petugas KKP yang baru lalu sangat memicu sensitifitas nasionalisme Indonesia.

Tentu dengan bergabungnya Malaysia ke dalam naungan Republik Indonesia tidak akan ada lagi kemarahan dari masyarakat Indonesia jika mereka mengklaim semua seni-budaya kita. Bahkan mereka boleh sesuka hati memanen ikan di perairan Indonesia dengan syarat bergabung dengan Indonesia. Bukankah bangsa serumpun selalu menjadi jargon untuk menyatukan hubungan antara Malaysia dan indonesia.

Untung Soe Hok Gie Mati Muda

Disajikan oleh Erwin Jahja


Ya, beruntunglah Soe Hok Gie mati muda, mati di usia 27 tahun kurang satu hari. Soe Hok Gie meninggal pada 16 Desember 1969 dalam dekapan puncak Semeru. Kematian Sang Demonstran ini menjelaskan bahwa ternyata alam lebih mencintai dia dibanding kekuasaan. Ya, beruntunglah dia sang pendobrak kekuasaan absolute Soekarno ini tak terkontaminasi oleh kekuasaan, alam lebih menyayangi dirinya. Meski dirinya adalah salah satu pelopor yang mendorong runtuhnya Orde Lama dan berdirinya Orde Baru, tapi dia tak pernah lupa untuk kritis pada Orde Baru, tak pernah tercemar oleh kekuasaan Orde Baru.

Hatta, Habibie dan Hatoyama

Disajikan oleh Erwin Jahja


Beberapa hari lalu Perdana Menteri Jepang Hatoyama mengundurkan diri karena tidak mampu memenuhi janji-janjinya. Lantas langsung terpkir olehku, bagaimana dengan pemimpin negeri ini, apakah ada yang berani mengundurkan diri seperti Hatoyama. Aku berpikir keras untuk mencari jawabannya. Lama berpikir akhirnya kutemukan, dan ternyata mereka punya kemiripan. Nama ketiganya berawalan dua huruf yang sama H dan A.

Misteri Gajah Mada

Disajikan oleh Erwin Jahja


Siapa yang tidak tahu nama tokoh ini, semua orang Indonesia tahu nama besar Gajah Mada sang Mahapatih Majapahit, orang pertama yang mempersatukan Nusantara. Tapi sampai saat ini, setelah 7 abad sejak kebesaran namanya berkibar di seantero negeri, tidak ada satu pun orang yang dapat mengungkap misteri asal-usulnya bahkan tentang akhir hidupnya. Bukan saja tentang asal-usul dan kematiannya, tentang strategi politik menuju posisi puncak di Majapahit serta strategi perangnya menguasai Nusantara juga masih menyimpan banyak misteri yang tak terjawab hingga kini.

Akhir Lakon Sutan Syahrir, Tragis.

Disajikan oleh Erwin Jahja



Syahrir, seharusnya tak ada orang Indonesia yang berani menyangsingkan jasa-jasanya untuk negeri ini. Diplomasi Sang Perdana Menteri Pertama republik ini di pentas internasional menjadikan Indonesia sebagai negeri jajahan pertama di dunia yang masuk dalam agenda sidang Dewan Keamanan PBB. Dia Pejuang kemanusian, diplomat ulung, demokrat sejati yang mengakhiri lakon hidupnya dengan kisah tragis. Entah kenapa kisah-kisah orang besar negeri ini selalu saja berujung dengan cerita tragis, mengiris hati yang selayaknya tidak mereka dapatkan setelah kebesaran dan keagungan mereka persembahkan untuk Indonesia. Lihat saja akhir cerita Tan Malaka yang ditembak mati tentara republik, Soekarno yang meninggal dalam kesendirian dan keterasingan, demikian juga dengan Hatta hingga akhir hayatnya tidak mampu membeli sepatu Bally yang sangat diinginkannya, seorang mantan Wakil Presiden tidak punya uang untuk sekedar beli sepatu bermerk.

Tan Malaka, Kisah Patjar Merah Indonesia dan Matu Mona

Disajikan oleh Erwin Jahja



Patjar Merah Indonesia, mendengar nama ini pastilah hampir semua orang yang menyenangi dan mempelajari sejarah tahu siapa tokoh utama novel itu. Tapi seberapa banyak yang tahu tentang penulisnya, berapa orang yang sudah membaca dengan lengkap cerita roman itu, tidak banyak kurasa. Maka beruntunglah kita yang belum pernah membaca roman campuran cerita fiksi dan sejarah petualangan Tan Malaka ini. Adalah Beranda Publishing, penerbit asal Yogyakarta bijak memahami kehausan dan rasa penasaran kita yang belum membaca cerita tentang Patjar Merah Indonesia ini. Perusahaan penerbitan ini mencetak ulang jilid pertama kisah petualangan ala Tan Malaka pada Februari 2010 lalu, dan beruntunglah aku menemukan buku ini di sebuah toko buku besar awal Maret lalu. Sang buku tersusun di rak buku-buku sastra, tak alang-kepalang senangnya aku mendapati buku ini, entah kenapa tiba-tiba adrenalin terpacu dalam darahku, padahal sama sekali belum aku sentuh untuk sekedar membaca sinopsisnya.

Ken Arok Sang Pendiri Wangsa Rajasa (Menurunkan raja-raja Majapahit)

Disajikan oleh Erwin Jahja


Nama Rajasa selain dijumpai dalam naskah sastra Nagarakretagama dan Pararaton, juga dijumpai dalam prasasti Balawi yang dikeluarkan oleh Raden Wijaya, pendiri Majapahit tahun 1305. Dalam prasasti itu Raden Wijaya mengaku sebagai anggota Wangsa Rajasa.Raden Wijaya adalah keturunan Ken Arok.

Ken Arok atau sering pula ditulis Ken Angrok (lahir:1182 - wafat: 1227/1247), adalah pendiri Kerajaan Tumapel (yang kemudian terkenal dengan nama Singhasari). Ia memerintah sebagai raja pertama bergelar Rajasa pada tahun 1222 - 1227 (atau 1247)

Keperkasaan Armada Laut Majapahit dibawah kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dan Laksamana Nala

Disajikan oleh Erwin Jahja


Tahun 1339-1341 / Seluruh Nusantara bagian barat berturut-turut diserang dan ditaklukkan armada Kerajaan Majapahit pimpinan Laksamana Nala. Dimulai dengan menghancurkan Kerajaan Pasai, selanjutnya menuju Jambi dan Palembang. Kemudian mereka menaklukkan Langkasuka, Kelantan, Kedah, Selangor, Tumasik (Singapura). Selanjutnya armada Majapahit mendarat di Tanjungpura, menundukkan Sambas, Banjarmasin, Pasir, dan Kutai. Dalam waktu 7 tahun setelah dikumandangkan "Sumpah Palapa", seluruh Sumatra, Semenanjung Melayu, Kalimantan, dan pulau-pulau di sekitarnya sudah menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Armada Majapahit dengan kekuatan 40.000 prajurit menjadi sesuatu kekuatan dahsyat tak ada tandingannya di Asia Tenggara ketika itu di masa kejayaan Majapahit. Dengan demikian, Nusantara bagian barat sepenuhnya sudah bersatu di bawah panji kerajaan Majapahit, kecuali Kerajaan Sunda.

Catatan Tentang Pemberontakan di Majapahit yang Didalangi Para Dharmaputra

Disajikan oleh Erwin Jahja


Pemberontakan Ra Semi

Kidung Sorandaka menyebutkan pada tahun 1316 ayah Patih Nambi yang bernama Pranaraja meninggal dunia di Lamajang. Tokoh Ra Semi ikut dalam rombongan pelayat dari Majapahit. Kemudian terjadi peristiwa tragis di mana Nambi difitnah melakukan pemberontakan oleh seorang tokoh licik bernama Mahapati. Raja Majapahit saat itu adalah Jayanagara putra Raden Wijaya. Karena terlanjur percaya kepada hasutan Mahapati, ia pun mengirim pasukan untuk menghukum Nambi.
Saat pasukan Majapahit datang menyerang, Ra Semi masih berada di Lamajang bersama anggota rombongan lainnya. Mau tidak mau ia pun bergabung membela Nambi. Akhirnya, Nambi dikisahkan terbunuh beserta seluruh pendukungnya, termasuk Ra Semi.
Pararaton menyebutkan pada tahun 1318 Ra Semi melakukan pemberontakan terhadap Majapahit. Berita ini cukup berbeda dengan naskah Kidung Sorandaka yang menyebutkan Ra Semi tewas membela Nambi tahun 1316.
Pararaton mengisahkan secara singkat pemberontakan Ra Semi terhadap pemerintahan Jayanagara. Pemberontakannya itu ia lakukan di daerah Lasem. Akhirnya pemberontakan kecil ini dapat ditumpas oleh pihak Majapahit di mana Ra Semi akhirnya tewas dibunuh di bawah pohon kapuk.

Sebuah Cerita : Dongeng dari Andalas

Disajikan oleh Erwin Jahja


“Sepertinya kita harus lebih siaga dan waspada lagi hari-hari kedepan pandeka,” suara berat penuh wibawa Datuk Perpatih seolah tenggelam oleh derik binatang malam.

Ditengah balairung itu duduk bersila Datuk Perpatih, didepannya dua orang hulubalangnya menyimak dengan seksama semua penuturan sang datuk. Pandeka Kuniang Batuah dan Sutan Marajo adalah dua orang kepercayaannya. Datuk Perpatih Nan Sabatang, itulah gelar yang disematkan padanya, ia adalah pemimpin bijaksana dari ranah Andalas ini. Namun sekarang ia menjadi was-was semenjak negrinya didatangi orang-orang dari tanah jawa. Datuk Perpatih harus memutar otak untuk menghadapi ancaman dari orang-orang Majapahit. Apabila melawan dengan kekuatan perang pastilah mereka akan kalah telak. Bagaimana mungkin melawan pasukan Sang Mahapatih Gajah Mada yang masyhur itu. Negrinya hanyalah negri kecil ditanah Andalas ini. Sedangkan Majapahit siapa yang tidak mengenal Sri Maharajasa dan Mahapatih Gajah Madanya, sampai ketanah Malaka dan Siam mereka ditakuti, kekuasaan mereka meliputi hampir seluruh pulau sumatra, dharmasraya telah mereka kuasai, sampai ke seram dan maluku, bahkan mereka dapat dengan mudahnya menaklukan Papua. Mungkin hanya orang Mongollah yang dapat menandingi kekuatan tentara Majapahit, itu pun jikalau Khubilai Khan masih ada.