Sebuah Cerita : Surat Terakhir

Disajikan oleh Erwin Jahja


“Kawan aku bingung dengan apa yang terjadi saat ini.”
“Aku tak tau apa keputusanku benar atau salah.”
“Mulai saat ini aku sudah tidak di hutan lagi, kuputuskan kembali ke kehidupan normal tanpa harus bersembunyi dan merasa dikejar-kejar.”
“Aku sudah tak tau tujuan apalagi yang kucari di hutan, kalau hanya untuk dendam, kurasa hal itu tak kan pernah habis, seperti lingkaran setan.”
Itu sepenggal surat terakhir yang kuterima dari Mustori. Mustori temanku di bangku SMA dulu di Banda Aceh. Cukup pintar, tampan, polos dan suka menyendiri.
Aku tak begitu terkejut saat mendengar kabar bahwa Mustori memutuskan untuk bergabung dengan gerakan separatis disana. Dulu, Mustori sering bercerita padaku tentang desanya dan keluarganya di Bireun. Saat DOM bapaknya dijemput tentara malam-malam, dituduh makar, tanpa bisa membela diri. Sampai saat terakhir bapaknya pulang diantar Keucik ( Kepala Desa ) desanya. Dan aku masih ingat bagaimana ekspresi Mustori saat bercerita kalau bapaknya pulang dengan cacat, salah satu bola matanya pecah dihantam popor senapan. Tak lama setelah kejadian itu kakak lelakinya yang dijemput paksa dengan tuduhan menjadi informan GAM dan tak pernah tau bagaimana nasibnya. Wajahnya begitu marah dan geram.

Ken Arok Sang Pendiri Wangsa Rajasa (Menurunkan raja-raja Majapahit)

Disajikan oleh Erwin Jahja


Nama Rajasa selain dijumpai dalam naskah sastra Nagarakretagama dan Pararaton, juga dijumpai dalam prasasti Balawi yang dikeluarkan oleh Raden Wijaya, pendiri Majapahit tahun 1305. Dalam prasasti itu Raden Wijaya mengaku sebagai anggota Wangsa Rajasa.Raden Wijaya adalah keturunan Ken Arok.

Ken Arok atau sering pula ditulis Ken Angrok (lahir:1182 - wafat: 1227/1247), adalah pendiri Kerajaan Tumapel (yang kemudian terkenal dengan nama Singhasari). Ia memerintah sebagai raja pertama bergelar Rajasa pada tahun 1222 - 1227 (atau 1247)

Keperkasaan Armada Laut Majapahit dibawah kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dan Laksamana Nala

Disajikan oleh Erwin Jahja


Tahun 1339-1341 / Seluruh Nusantara bagian barat berturut-turut diserang dan ditaklukkan armada Kerajaan Majapahit pimpinan Laksamana Nala. Dimulai dengan menghancurkan Kerajaan Pasai, selanjutnya menuju Jambi dan Palembang. Kemudian mereka menaklukkan Langkasuka, Kelantan, Kedah, Selangor, Tumasik (Singapura). Selanjutnya armada Majapahit mendarat di Tanjungpura, menundukkan Sambas, Banjarmasin, Pasir, dan Kutai. Dalam waktu 7 tahun setelah dikumandangkan "Sumpah Palapa", seluruh Sumatra, Semenanjung Melayu, Kalimantan, dan pulau-pulau di sekitarnya sudah menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Armada Majapahit dengan kekuatan 40.000 prajurit menjadi sesuatu kekuatan dahsyat tak ada tandingannya di Asia Tenggara ketika itu di masa kejayaan Majapahit. Dengan demikian, Nusantara bagian barat sepenuhnya sudah bersatu di bawah panji kerajaan Majapahit, kecuali Kerajaan Sunda.

Catatan Tentang Pemberontakan di Majapahit yang Didalangi Para Dharmaputra

Disajikan oleh Erwin Jahja


Pemberontakan Ra Semi

Kidung Sorandaka menyebutkan pada tahun 1316 ayah Patih Nambi yang bernama Pranaraja meninggal dunia di Lamajang. Tokoh Ra Semi ikut dalam rombongan pelayat dari Majapahit. Kemudian terjadi peristiwa tragis di mana Nambi difitnah melakukan pemberontakan oleh seorang tokoh licik bernama Mahapati. Raja Majapahit saat itu adalah Jayanagara putra Raden Wijaya. Karena terlanjur percaya kepada hasutan Mahapati, ia pun mengirim pasukan untuk menghukum Nambi.
Saat pasukan Majapahit datang menyerang, Ra Semi masih berada di Lamajang bersama anggota rombongan lainnya. Mau tidak mau ia pun bergabung membela Nambi. Akhirnya, Nambi dikisahkan terbunuh beserta seluruh pendukungnya, termasuk Ra Semi.
Pararaton menyebutkan pada tahun 1318 Ra Semi melakukan pemberontakan terhadap Majapahit. Berita ini cukup berbeda dengan naskah Kidung Sorandaka yang menyebutkan Ra Semi tewas membela Nambi tahun 1316.
Pararaton mengisahkan secara singkat pemberontakan Ra Semi terhadap pemerintahan Jayanagara. Pemberontakannya itu ia lakukan di daerah Lasem. Akhirnya pemberontakan kecil ini dapat ditumpas oleh pihak Majapahit di mana Ra Semi akhirnya tewas dibunuh di bawah pohon kapuk.

Sebuah Cerita : Dongeng dari Andalas

Disajikan oleh Erwin Jahja


“Sepertinya kita harus lebih siaga dan waspada lagi hari-hari kedepan pandeka,” suara berat penuh wibawa Datuk Perpatih seolah tenggelam oleh derik binatang malam.

Ditengah balairung itu duduk bersila Datuk Perpatih, didepannya dua orang hulubalangnya menyimak dengan seksama semua penuturan sang datuk. Pandeka Kuniang Batuah dan Sutan Marajo adalah dua orang kepercayaannya. Datuk Perpatih Nan Sabatang, itulah gelar yang disematkan padanya, ia adalah pemimpin bijaksana dari ranah Andalas ini. Namun sekarang ia menjadi was-was semenjak negrinya didatangi orang-orang dari tanah jawa. Datuk Perpatih harus memutar otak untuk menghadapi ancaman dari orang-orang Majapahit. Apabila melawan dengan kekuatan perang pastilah mereka akan kalah telak. Bagaimana mungkin melawan pasukan Sang Mahapatih Gajah Mada yang masyhur itu. Negrinya hanyalah negri kecil ditanah Andalas ini. Sedangkan Majapahit siapa yang tidak mengenal Sri Maharajasa dan Mahapatih Gajah Madanya, sampai ketanah Malaka dan Siam mereka ditakuti, kekuasaan mereka meliputi hampir seluruh pulau sumatra, dharmasraya telah mereka kuasai, sampai ke seram dan maluku, bahkan mereka dapat dengan mudahnya menaklukan Papua. Mungkin hanya orang Mongollah yang dapat menandingi kekuatan tentara Majapahit, itu pun jikalau Khubilai Khan masih ada.