Ya, beruntunglah Soe Hok Gie mati muda, mati di usia 27 tahun kurang satu hari. Soe Hok Gie meninggal pada 16 Desember 1969 dalam dekapan puncak Semeru. Kematian Sang Demonstran ini menjelaskan bahwa ternyata alam lebih mencintai dia dibanding kekuasaan. Ya, beruntunglah dia sang pendobrak kekuasaan absolute Soekarno ini tak terkontaminasi oleh kekuasaan, alam lebih menyayangi dirinya. Meski dirinya adalah salah satu pelopor yang mendorong runtuhnya Orde Lama dan berdirinya Orde Baru, tapi dia tak pernah lupa untuk kritis pada Orde Baru, tak pernah tercemar oleh kekuasaan Orde Baru.

Hari ini agaknya lebih menarik bagi kita untuk menulis dan mengulas tentang Luna Maya dan Ariel Peterpan, entah itu membahas masa depan kedua artis itu setelah beredarnya video porno mirip mereka, ulasan asli tidaknya video itu hingga menghubung-hubungkan keduanya dengan kondisi politik dan sosial pada judul tulisan agar dikunjungi pembaca beramai-ramai. Sementara kemarin tanggal 6 Juni, hari kelahiran Bung Karno 109 tahun lalu agaknya sudah terlupakan. Separah inikah ingatan kita akan sejarah? Ataukah kita telah menafikan jasa-jasa Bung kita satu ini? Bung yang berperan sangat besar untuk kemerdekaan yang kita nikmati saat ini! Layakkah kita disebut sebagai bangsa yang besar, bangsa yang melupakan sejarah pahlawannya sendiri.
Dia lelaki tua berumur 89 tahun. Dia ketua adat tertinggi suku Talang Mamak, suku Melayu Tua yang bermukim di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Riau. Dia sang penjaga hutan, penjaga Tanah Keramat Rimba Puaka suku Talang Mamak. Dan dia lah penerima Kalpataru, penghargaan tertinggi bidang lingkungan hidup, dari Presiden Republik ini tahun 2003. Patih Laman namanya.
Sang Patih ini juga telah menerima penghargaan dari dunia internasional, imbalan dari sikap konsistennya menjaga hutan, tahun 1999 WWF Internasional memberinya Award di Kinabalu Malaysia. Sejak lama dia telah membusungkan dada dan menyingsingkan lengan bajunya untuk kelestarian hutan. Dia rela mempertaruhkan nyawa demi menjaga hutan alam suku Talang Mamak, sang patih gagah berani menghadang penghancuran hutan disana. Dan memang sepantasnya lah dia mendapatkan penghargaan-penghargaan itu.
Pak Hoegeng dan pak Lopa yang terhormat, kenapa kalian tidak hidup di zaman ini. Zaman dimana kami tengah berada di dalam keanehan hukum yang tak pernah jelas tentang benar atau salah. Tak pernah jelas yang mana penegak hukum dan yang mana penjahat hukum. Sampai-sampai kami sendiri sulit untuk membedakan tentang kanan dan kiri. Kami ketakutan ketika berteriak tentang kebenaran maka suatu ketika kebenaran itu menjadi kesalahan yang akan memenjarakan kami. Walau semestinya kami tidak perlu takut akan penjara, tidak perlu takut akan kriminalisasi. Bukankah dulu Syahrir dan Hatta menikmati penjara saat berteriak lantang tentang kebenaran. Tolong jangan tertawai kami, kami hanya ingin mengadu.
Beberapa hari lalu Perdana Menteri Jepang Hatoyama mengundurkan diri karena tidak mampu memenuhi janji-janjinya. Lantas langsung terpkir olehku, bagaimana dengan pemimpin negeri ini, apakah ada yang berani mengundurkan diri seperti Hatoyama. Aku berpikir keras untuk mencari jawabannya. Lama berpikir akhirnya kutemukan, dan ternyata mereka punya kemiripan. Nama ketiganya berawalan dua huruf yang sama H dan A.
Categories
- catatan tengah (21)
- Opini (14)
- Sejarah (10)
- Cerpen (9)
- terserah gue (5)
- reportase (2)
- resensi buku (2)
- unik (1)




