
Entah penting, entah tidak tulisan ini ditulis tapi sejujurnya aku tergelitik juga untuk menulis tulisan ini. Ketika membaca ungkapan Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum tentang duet mautnya dengan sang Sekjen termuda itu tangan ini mulai gatal untuk menulis, entah penting entah tidak. Duet maut yang diungkapkan Anas kemarin bisa jadi hanya kebetulan saja karena bertepatan momentnya dengan gemuruh event olahraga akbar itu. Tapi menurutku apa yang diungkapkan Anas itu sangat-sangat benar, cocok sekali, pas, mantab. Percayalah, strategi yang diterapkan oleh seorang Anas dan Demokrat memang cocok dengan perkembangan sepakbola dunia terkini.
Agaknya semboyan Bhineka Tunggal Ika Indonesia dalam arti sesungguhnya telah teraplikasi sejak awal abad ke-18, dan kebhinekaan itu bernama Betawi. Perwujudan kebhinekaan dan percampuran adat budaya berbagai suku bangsa ini terkumpul menjadi satu dan menjelma menjadi sebuah etnis baru bernama Betawi. Suku Betawi adalah aplikasi dalam arti sesungguhnya tentang Bhineka Tunggal Ika yang menjadi semboyan negeri ini. Etnis Betawi tercipta dari berbagai ragam adat-istiadat, budaya berbagai suku bangsa Indonesia. Bagaimana ini bisa bermula dapat diketahui dari cerita sejarah tentang Jayakarta dan Batavia. Bermula dari penguasaan Sunda kelapa oleh pasukan Fatahillah pada 1527 hingga dikuasainya Jayakarta oleh JP Coen pada 1619 dan kemudian mengganti namanya menjadi Batavia.
Awal abad ke-17 wilayah kekuasaan antara Banten dan Batavia dibatasi dengan batasan geografis Kali Angke dan Cisadane yang kemudian menjadi tembok benteng kota Batavia.

Beberapa hari lalu aku menulis tentang Soekarno, bercerita tentang kisah Soekarno founding father negeri ini yang terlupakan karena kita terlalu sibuk membahas soal video-video mesum itu. Ternyata bukan hanya Soekarno yang terlupakan, seorang pahlawan besar Indonesia yang lahir pada bulan ini juga terlupakan. Dia Tan Malaka yang lahir pada 2 Juni 1897. Seharusnya sebelum tulisan tentang Soekarno itu kutulis, tulisan inilah yang ditulis lebih dulu. Tapi aku lupa, lupa jika Juni adalah bulan kelahirannya. Kalau saja malam tadi aku tidak bermimpi bertemu dengannya mungkin tulisan ini tak pernah ada. Bertemu dengan Tan Malaka, ya itulah.

Westerling, 60 tahun setelah petualangan pemberontakan yang dilakukannya dengan pasukan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) nya itu, mendengar namanya saja sudah masih membuat bergidik. Bahkan jika ada kekejaman yang terjadi di negeri ini, orang-orang akan menyebutnya kejam seperti Westerling. Pembantaian ribuan jiwa rakyat Indonesia yang dilakukannya di Sulawesi Selatan tahun 1946 menjadi sejarah kelam bangsa ini. Aksi yang disebutnya sebagai “Mahkamah Militer Rakyat” dimana dirinya bisa mengadili siapa saja yang dianggapnya bersalah. Tak perlu pengadilan, tak perlu hakim, yang dibutuhkan hanya peluru sesuai keinginan kehendak hatinya saja.
Categories
- catatan tengah (21)
- Opini (14)
- Sejarah (10)
- Cerpen (9)
- terserah gue (5)
- reportase (2)
- resensi buku (2)
- unik (1)


