Sekarang lagi musimnya semua tokoh-tokoh nasional mendeklarasikan diri menjadi calon presiden. Ada yang mengklaim pro rakyat kecil, petani, nelayan, ada yang saling sindir, ada yang seolah-olah terzolimi ada yang menyatakan ingin mendedikasikan diri untuk rakyat dengan menjadi presiden, ada lagi yang ingin menjadi capres independen walaupun akhirnya tak diizinkan oleh Mahkamah konstitusi.
Namun…..tak ada satupun tokoh-tokoh nasional yang dengan tegas mendeklarasikan diri menjadi wakil presiden. Padahal…..posisi ini sangat strategis loh…tanya kenapa?
Buas dan beringas, hanya dua kata itu yang bisa diungkapkan melihat keganasan demonstrasi
Mungkin sebagian besar masyarakat Pekanbaru tidak mengetahui bahwa di pinggiran Kota Pekanbaru, tepatnya di Kelurahan Sail Kecamatan Tenayanraya ada sebuah desa bernama Desa Bukit Jamin, yang sama sekali tidak menikmati majunya perkembangan pembangunan Kota Pekanbaru.
Bayangkan saja, desa yang hanya berjarak sekitar 10 km dari pusat kota itu sama sekali belum tersentuh listrik. Jalan menuju desa tersebut hanya berupa jalan tanah selebar 4 meter.
Warga Desa Bukit Jamin tersebut umumnya orang perantauan yang berasal dari suku Nias yang berprofesi sebagai buruh cetak batu bata. Desa ini dihuni sekitar 100 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal dirumah-rumah semi permanent beratapkan rumbia, sebagian lagi rumah – rumah bata tanpa plester semen.
Sebelum adzan subuh berkuumandang menghiasi fajar pagi, perempuan itu setia berjalan tiga kilometer menggendong bakul jamu. Selalu rutinitas itu dilakukan nya setiap hari, selalu dengan peluh dikeningnya, hampir empat tahun ini. Di pagi buta dingin, telah bercucuran keringat dengan botol-botol jamu yang diraciknya malam tadi. Berharap hari ini jamu racikannya akan diminum orang-orang, membuat sipeminum menjadi segar olehnya. Entah itu karena jamunya memang manjur atau karena sugesti orang – orang.
Tidak seperti pedagang jamu gendong lainnya, yang selalu berkeliling menjajakan dagangannya. Perempuan itu menjajakan dagangannya tetap di depan emperan ruko kelontong milik seorang pedagang Tionghua.
Categories
- catatan tengah (21)
- Opini (14)
- Sejarah (10)
- Cerpen (9)
- terserah gue (5)
- reportase (2)
- resensi buku (2)
- unik (1)


